Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Siapakah Ilmuwan Muslim dari Spanyol?

Siapakah Ilmuwan Muslim dari Spanyol?

Ali Zain Aljufri - Pada masa kejayaan Islam di Spanyol, bermacam teknologi bermunculan. Hal itu disangga oleh pesatnya industri dan ilmu pengetahuan. Teknologi kincir air dan angin diaplikasikan untuk pabrik kertas, pabrik baja, dan pabrik-pabrik pangan. Lalu, teknologi bendungan serta pengatur air untuk irigasi juga tercipta di peradaban Spanyol Muslim.

Di zaman kekuasaan Islam pula, Abbas Ibnu Firnas menemukan cikal-bakal pesawat terbang dan parasut. Teknologi kedirgantaraan di Andalusia itu diketahui sebagai yang pertama di dunia. Beliau menjadi inspirator bahwa manusia dapat terbang menjelajahi angkasa.

Abbas Ibnu Firnas (810-887 M), beliau merupakan pakar matematika dan astronom terkemuka di zaman kekuasaan Kekhalifahan Umayyah Spanyol. Ibnu Firnas mendedikasikan dirinya untuk mengoptimalkan ilmu pengetahuan di istana Khalifah Umayyah yang berkonsentrasi di kota Cordoba. Dalam bidang astronomi, Ibnu Firnas sukses menghasilkan tabel astronomi lokal, mengelola observatorium, dan mendesain sebuah jam air.

Sejarah dunia mencatatnya sebagai perintis di dunia kedirgantaraan. Beliau merupakan manusia pertama dalam sejarah manusia yang mencoba untuk menjalankan misi penerbangan. Berkat uji coba yang dikerjakannya pada 875 M, peradaban modern menyadari bahwa dengan teknologi, manusia dapat terbang menjelajahi angkasa. Sekitar 10 abad kemudian, peradaban Barat mulai mencobanya.

Abu Al-Qasim Al-Zahrawi (936-1013 M) Abulcasis. Demikian peradaban Barat lazim menyebut dokter Muslim legendaris asal Cordoba ini. Beliau merupakan dokter bedah terkemuka di Cordoba. Kontribusinya bagi pengembangan dunia kedokteran, terutama ilmu bedah sungguh tidak ternilai. Beliau diketahui sebagai peletak dasar-dasar teknik ilmu bedah modern.

Al-Zahrawi bahkan sanggup menghasilkan perlengkapan bedah sendiri. Sebagian alat bedah yang diciptakannya sampai sekarang masih dipakai. Seluruh pemikirannya dalam ilmu kedokteran dituangkan dalam kitab Al-Tasrif. Inilah ensiklopedia kedokteran terbesar. Karyanya itu lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan menjadi referensi para dokter di dunia Barat.

Abu Ishaq Al-Zarqali (1028-1087 M), beliau merupakan pakar matematika dan astronom termasyhur dari Toledo, Spanyol. Tabel Toledo adalah salah satu kontribusi beliau yang amat familiar dalam bidang astronomi. Beliau ikut serta meluruskan data geografis Ptolemeus, salah satunya yaitu panjang Laut Mediteranian. Beliau bahkan berhasil menghasilkan perlengkapan astronomi yang jitu.

Al-Zarqali juga sanggup menghasilkan sebuah astrolabe, alat astronomi yang baru berbentuk flat bernama Al-Safiha atau Arzachel (seperti itu orang Barat menyebutnya) juga menghasilkan sebuah jam air. Jam air itu mampu memastikan jam pada siang dan malam hari.

Ali Ibnu Hazm (994-1064 M), beliau terlahir sebagai putra salah seorang pejabat di Kekhalifahan Umayyah Cordoba. Sesudah pamor Dinasti Umayyah mulai terbenam, Ibnu Hazm memosisikan dirinya sebagai ilmuwan yang independen. Tidak kurang dari 400 judul buku sudah ditulis. Salah satu yang familiar berjudul Tawq al-Hamamah (The Dove’s Necklace), kompilasi anekdot, observasi, dan puisi tentang cinta.

Hakam II (914-976), sebenarnya beliau merupakan seorang Khalifah Umayyah. Tetapi, beliau sangat cinta pada ilmu pengetahuan. Beliau membangun sebuah perpustakaan raksasa di Cordoba. Koleksi bukunya mencapai 400.000 judul dari seluruh penjuru negara Muslim. Beliau menunjang terjemahan karya-karya berbahasa Yunani. Pada masa pemerintahannya, dibangun sarana irigasi untuk pengembangan pertanian. Beliau juga menunjang perluasan Masjid Cordoba.

Post a Comment for "Siapakah Ilmuwan Muslim dari Spanyol?"